Tampilkan postingan dengan label cinema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinema. Tampilkan semua postingan

Jadi Ibu Christian Bautista, Ira Wibowo "Happy"



Aktris Ira Wibowo merasa tertantang setiap kali ditawari bermain film berbeda dan unik, termasuk dalam filmSimfoni Luar Biasa, yang dibintangi penyanyi asal Filipina, Christian Bautista.
"Senang, punya anak ganteng banget, ha-ha-ha," komentar istri dari Katon Bagaskara tersebut, di penayangan film Simfoni Luar Biasa  di Blitz Megaplex, Pacific Place, SCBD, Jakarta, Jumat (12/8/2011).
Dalam film yang mengangkat tema drama di sekolah anak-anak berkebutuhan spesial tersebut, Ira berperan sebagai ibunda dari Bautista. Ira sempat mendapatkan beberapa pengalaman baru saat membangun chemistry dengan Bautista, seorang anak yang diceritakan berpisah dengan ibunya semenjak bayi sampai dewasa.
"Film ini kan merupakan film pertamanya dia yang menjadikan dirinya sebagai pemain utama. Dia anaknya serius banget, mau belajar banyak. Saya dan dia cukup banyak berdiskusi dan dia orangnya nggak malu bertanya," terang Ira.
Karena keseringan berdiskusi di lokasi shooting, Ira dan Bautista bisa membangun chemistryhubungan layaknya ibu dan anak sesungguhnya dalam waktu lumayan cepat dari sekitar 21 hari proses reading dan shooting. Film Simfoni Luar Biasa sendiri direncanakan tayang perdana di Indonesia mulai 29 September 2011. 

Gantikan Sheen, Ashton Kutcher Dibayar Mahal


Bintang Ashton Kutcher tengah terang benderang. Suami dari aktris Demi Moore ini disebut-sebut menjadi pemain dengan bayaran tertinggi untuk peran barunya dalam sitkom televisi Two and a Half Men.   Situs news.com.au mengabarkan aktor yang usianya terpaut 15 tahun lebih muda dari istrinya itu telah dibayar 700 ribu dollar AS per episode atau 15,4 juta dollar untuk satu musim. Bayaran tersebut jauh lebih besar dari dua pemain senior di serial tersebut, Jon Cryer dan Angus T. Jones.
Kehadiran Kutcher di serial Two and a Half diharapkan memberi warna baru. Ia  menggantikan posisi Charlie Sheen yang dipecat pihak Warner Bros, perusahaan yang memproduksi film tersebut, terhentinya serial televisi tersebut sejak Januari lalu, lantaran Sheen masuk rehabilitasi karena ketergantungan obat-obatan dan alkohol.   Meski tergolong mendapatkan bayaran paling tinggi, namun pemeran Michael Kelso dalam serial televisi That '70s Show ini, masih belum bisa menyamai bayaran yang diberikan Sheen, yang nilainya mencapai 1,2 juta dollar AS per episode. 

Maribeth Jajal Layar Lebar


Masih ingatkah Anda dengan pelantun 'Denpasar Moon'? Ya, lama tak terdengar kabarnya, Maribeth Pascua kembali muncul. Kali ini, ia tak sedang bernyanyi, tapi beradu akting di layar lebar.
Bersama rekan senegaranya, pelantun 'I'am Already King' Christian Bautista, Maribeth  mencoba menjajal layar lebar. Bersama-sama dengan Ira Wibowo, Ira Maya Sopha, Verdi Solaiman da Gista Putri, mereka bermain di sebuah film genre drama musikal berjudul Simfoni Luar Biasa.
Film yang mengkisahkan tentang pengalaman hidup seorang musisi asal Filipina yang terdampar di negara asal ibunya, Indonesia, yang tak disangka-sangka kemudian menjajal aktivitas baru mengajar di sebuah sekolah luar biasa khusus anak-anak berkebutuhan spesial. "Ini baru pertamaditawarin main film. Waktu ditawarin peran ini aku ketawa sendiri," kata Maribeth yang berperan sebagai Tita, Tante Jayden (diperankan Bautista), saat ditemui wartawan di kawasan SCBD Sudirman, Jakarta, Jumat (12/8/2011).
Meski merasa cukup kaget, Maribeth langsung menyetujuinya ketika tawaran tersebut datang kepadanya. "Untungnya aku pernah main sinetron sebelumnya," timpal Maribeth.
Perempuan kelahiran Filipina, 14 Januari 1972, tersebut menjelaskan pula bahwa dirinya pernah mempelajari drama. "Dulu, sebelum aku menyanyi, aku juga pernah belajar drama di sekolah. Sepertinya nggak susah," sambung Maribeth, yang kini menetap juga di Indonesia.
Ditambahkan, film tersebut sengaja diterimanya selain untuk mengasah kemampuan aktingnya, juga dikarenakan memiliki tema yang cukup unik dan baru. Dirinya juga berharap agar film tersebut dapat diterima bagi khalayak Indonesia. 

21 Cineplex Bantah Keterlibatan Keluarga RI 1


 Desas-desus terkait keterlibatan Ibas Yudhoyono, salah satu putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam penyelesaian kemelut impor film melalui PT Omega Film dibantah keras TR Anito, Direktur 21 Cineplex.
Jadi tidak benar juga bahwa mereka pengimpor film itu menggelapkan atau pengemplang pajak. Yang ada adalah keberatan terhadap PPN atas dua hal tersebut.
"Berita itu seratus persen tidak benar," kata Anito di hadapan wartawan di Djakarta Theatre XXI, Rabu (10/8/2011).     
Seperti diberitakan sebelumnya, perusahaan film PT Omega Film adalah mitra utama studio Hollywood yang tergabung dalam Motion Picture Association (MPA). Sejumlah pihak menyebut adanya nama Ibas di belakang perusahaan tersebut sehingga bisa dengan mudah mendapat restu dari lembaga terkait—Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan, serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata—untuk kembali mengimpor film produksi MPA, setelah mengantongi nomor identitas kepabeanan (NIK) pada 3 Mei 2011. Alhasil dua film Hollywood yang begitu dinanti pun akhirnya bisa ditonton publik Tanah Air. Dua film tersebut adalah Harry Potter dan Transformers 3, yang tayang mulai 29 Juli 2011 serentak di jaringan bioskop 21 dan XXI.  
Sayangnya, dalam kesempatan tersebut, pihak PT Omega Film sendiri tak hadir. Sementara itu, disinggung soal keterkaitan hubungan antara PT Omega Film dan 21 Cineplex, Anito tak menampiknya. Hanya, 21 Cineplex tidak berafiliasi, seperti yang dituduhkan banyak pihak.
"Kami memang punya hubungan yang erat. PT Omega menyuplai film ke 21 Cineplex. Namun, secara kepengurusan dan saham berbeda. Secara legal formal tidak ada, tetapi operasional melakukan usaha bersama-sama itu iya," bebernya.
Dalam kesempatan yang sama, Anito juga menjelaskan mengenai alasan studio film Amerika yang merasa keberatan atas pengenaan PPN terhadap hak edar dan royalti film. "Mereka keberatan karena selama ini telah dikenakan pajak hiburan, yang tarifnya bervariasi antara 10 dan 35 persen atas penjualan tiket bioskop di Indonesia dan adanya ketentuan dalam UU PPN yang mengecualikan jasa hiburan dan kesenian dari pengenaan PPN," urainya.  
Pengenaan lagi PPN atas hak edar dan royalti film, menurut Anito, justru akan menciptakan praktik pajak berganda yang akhinya membebani pihak konsumen, dalam hal ini penonton bioskop. "Jadi tidak benar juga bahwa mereka (pengimpor film) itu menggelapkan atau pengemplang pajak. Yang ada adalah keberatan terhadap PPN atas dua hal tersebut," beber Anito.
Tak dimungkiri, reaksi yang muncul adalah tersendatnya suplai film-film Hollywood di Tanah Air. Anito mengatakan, sejak MPA menghentikan peredaran filmnya ke Indonesia karena sengketa pajak, pihaknya mengalami kerugian yang cukup besar. "Penurunan omzet 21 Cineplex dengan adanya masalah ini mencapai lima puluh persen lebih," katanya.

"Temple Grandin", Si Autis Jenius


TEMPLE GRANDIN 
PEMAIN: 
Claire Danes (Temple Grandin), Julia Ormond (Eustica), Catherine O'Hara (Aunt Anne), David Sam (Professor Carlock) 
SUTRADARA: Mick Jackson 
SKENARIO
: Christopher Monger dan William Merrit Johnson
Temple Grandin merupakan potret kegigihan dan ketekunan seorang wanita muda yang berjuang melawan penentangan-penentangan yang mengisolasi penyandang autisme pada suatu masa ketika autisme belum banyak diketahui.
Film ini mengisahkan kehidupan Temple yang didiagnosis menderita autisme oleh dokter. Meski begitu, di tengah pertumbuhannya yang bergejolak dan perkembangan Temple selama bersekolah justru membuat banyak kalangan angkat topi akan bakat unik perempuan yang berhasil mendapatkan gelar Master of Science in Animal Science.
Dengan segala kekurangannya, Temple muda selalu berpikir out of the box di luar pemikiran manusia normal lainnya. Misalnya, Temple yang menyandang autisme sejak usia kecilnya mampu mengamati kebiasaan sapi ternak sebelum dijagal oleh para cowboy.
Dengan pengamatannya tersebut, Temple yang berusaha menyelesaikan tesisnya berpikir, "Dunia sudah kejam, dan kita tidak perlu kejam terhadap hewan ternak." Sukses mencipta sebuah metode berupa alat perilaku untuk menenangkan hewan ternak.
Temuannya tersebut juga ditulisnya sebagai artikel majalah yang menjadi langganan para peternak sapi, hingga akhirnya tak sedikit dari mereka meminta Temple untuk mempresentasikan metodenya.
Film yang mengambil latar Amerika era 1975 itu bisa menggugah pola pikir terhadap penyandang autisme selama ini. Misalnya, dalam satu scene Temple mengaku lebih senang jika dia diperlakukan sama dengan orang-orang normal lainnya, dan lebih menghargai mereka yang memberikan tanggung jawab pekerjaan yang sama pula dengan pekerja lainnya.
Kisah Temple Grandin yang didasarkan pada buku Emergance karya Temple Grandin dan Margaret Scariano, juga buku Thinking in Pictures karya Temple Grandin, mencoba membawa persepsi atas dunia yang sangat berbeda sebagai wawasan baru bagi banyak orang.
Temple Grandin, film produksi HBO Original peraih penghargaan Emmy dan Golden Globe, akan tayang perdana di Asia pada 2 September 2011 pukul 21.00 WIB di HBO dan HBO HD.